Assalamu'alaikum Wr Wb
Perjalanan pulang Sholat Maghrib dari masjid Assaadah Ponsaf aku bareng dengan adik kelas se-daerah yang baru tingkat satu D3 Penilai PBB STAN. Aku bertanya tentang sarana transportasi apa yang biasa digunakan saat mudik ke Sukoharjo dan balik ke Kampus tercinta di Bintaro ini. Jawabannya sambil tertawa kecil adalah naik kereta ekonomi Senja Bengawan. Kukira ini hanya guyonan saja, tapi ternyata serius karena dia disarankan oleh ayahnya agar naik kereta ekonomi saja biar ngirit ongkos.
Perjalanan pulang Sholat Maghrib dari masjid Assaadah Ponsaf aku bareng dengan adik kelas se-daerah yang baru tingkat satu D3 Penilai PBB STAN. Aku bertanya tentang sarana transportasi apa yang biasa digunakan saat mudik ke Sukoharjo dan balik ke Kampus tercinta di Bintaro ini. Jawabannya sambil tertawa kecil adalah naik kereta ekonomi Senja Bengawan. Kukira ini hanya guyonan saja, tapi ternyata serius karena dia disarankan oleh ayahnya agar naik kereta ekonomi saja biar ngirit ongkos.
Memoriku melayang ke tahun 2002 saat masih kuliah D3 dulu. Mungkin karena masalah ekonomi akhirnya aku masuk kuliah di STAN daripada di UGM. Itulah yang selalu menjadi alasanku untuk marah kepada orangtua (Astaghfirullahaladzim) termasuk alasan kuliah jauh dan harus mandiri. Meskipun kuliah di STAN itu gratis, tapi kebutuhan hidup tetap harus dicukupi. Aku sangat ingat berapa jatah uang saku untuk sebulan. Alhamdulillah jumlah tersebut cukup dan akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliah di STAN dan diangkat menjadi PNS.
Perjuangan orang tuaku mungkin tidak perlu diceritakan disini.Yang pasti masa masa kuliah D3 STAN dulu bisa diibaratkan usaha dengan modal kecil. Tapi hasil yang berhasil kucapai boleh dikatakan suatu untung yang besar. Uang bulanan terbatas, tak ada komputer, kemana mana jalan kaki, kadang pinjam duit ke teman, dll. Dan pada akhirnya aku memperoleh peringkat 10% terbaik diantara 300 lebih anak D3 Penilai PBB yang lulus tahun 2005. Suatu prestasi yang membanggakan bagi orang tuaku.
Tahun 2006 sampai akhir 2007 aku memasuki masa kerja di Tangerang. Seolah olah ingin membalas dengan segala kekurangan di masa kuliah, aku mempunyai gaya hidup yang sangat boros. Uang gaji dan tunjangan selalu habis dan tidak tampak barang yang bisa dipakai. Semua menjadi makanan dan minuman yang hanya lewat di tubuhku saja. Hampir setiap hari makan di warung makan dan belanja di minimarket maupun supermarket. Sampai tiba saatnya aku mengambil keputusan untuk kuliah DIV atau tidak. Pertimbangan penghasilan menjadi faktor utama. Karena kuliah atau kerja memang beda penghasilannya. Dan akhirnya aku dengan berat memilih untuk kuliah DIV.
Suasana kuliah di DIV berbeda 180" dengan kuliah DIII dulu. Jika diibaratkan modalku kali ini cukup besar. Motor, komputer, printer, internet broadband, buku buku, uang bulanan yang besar(gaji sendiri) dll itulah yang menjadi modalku. Tapi apa yang terjadi. Aku malah menjadi malas, tidak bersyukur, dan hasilnya pn tidak memuaskan



0 comments
Posting Komentar