Ada orang yang mudah mabuk perjalanan. Biasanya mereka akan merasa mual dan ingin muntah. Naik bis, kereta, pesawat, atau kapal laut bias membuat mereka mabuk. Untuk menaggulanginya mereka naik kendaraan yang menurut mereka paling nyaman dan sebelum berangkat minum obat anti mabuk dahulu.
Sore hari, bada Ashar. Dalam perjalanan dari halte Semanggi menuju halte Pancoran Tugu dengan bus Trans Jakarta. Seperti biasa, bus ini selalu penuh penumpang. Banyak penumpang yang bergelantungan terutama di dekat pintu. Bus yang ber-AC itupun sudah seperti bus non AC. Udara dingin sudah terserap oleh banyak orang dan dikalahkan oelh panas tubuh mereka. Situasi ini membuat para korban mabuk perjalanan segera berkontaksi alias penyakitnya kambuh. Perutpun mulai terasa mual, kepala pusing, pandangan berkunang-kunang, keringat mengalir deras, dll.
Dan dengan segera dia memberitahukan ke orang di sebelahnya atau orang yang bepergian bersamanya bahwa titik kritis permabukan ini akan segera tercapai. Pencapaian titik kritis ini biasanya adalah seperti gunung berapi yang mengeluarkan lava pijar dari dalam perut bumi (agak lebai sih) yang bahasa sederhananya muntah. Segala apa yang ada di perutnya akan keluar denagn berbagai bentuk yang membuat kita malas makan (hehehehe). Jika dia ingin memuntahkan di situ sebenarnya tidak masalah karena di berbagai kendaraan umum hal tersebut sudah biasa. Tapi masalahnya ini Busway bung, eh bus Trans Jakarta yang sangat fenomenal itu. Dan pencarian tempat pembuangan isi perut pun dimulai.
Di dalam bus Trans Jakarta, kalo kita bertanya ke seluruh penumpang siapakah yang mempunyai Blackberry, pasti mayoritas akan dengan bangga mengangkat tangannya tinggi tinggi. Atau jika kita tanya siapakah yang sudah ber-social networking saat sedang naik bus ini, pasti jawabannya adalah “Gu3 9e3to0 Lo0ooccHHH … H4re33 9e3ne33 k4gAk P3sbuK4n …. Gak gaul !!!!” (capek & pusing nulisnya). Pertanyaan terakhir adalah siapa yang suka music, pasti mayoritas menjawab ya, dengan menunjukkan gadget mereka dengan playlist lagu favorit dengan headphone tercanggih yang bias membedakan bass, treble, dll
Kembali ke masalah permabukan dalam perjalanan tadi, saat kebutuhan akan kantong plastic begitu mendesak, mulailah teman/saudara/atau yang terdekat dengan korban mencari kantong plastic untuk menampung limbah perut sang korban. Bertanya ke satu, dua, tiga bahkan sampai orang ke tujuh, kantong plastic pun belum bias ditemukan. Padahal jika kita bertanya dengan pertanyaan “diatas” pasti mayoritas punya. Dan akhirnya, ada sesosok bayangan (eh bukan) ternyata manusia, yang Nampak berbeda dengan penumpang mayoritas di bus tersebut yang mempunyai kantong plastic “bekas” dia membeli minuman di minimarket. Ternyata Orang tersebut tidak membuang kantong palstiknya dan disimpan dalam tasnya sebagai persediaan untuk jaga2 jika ada hal yang mendesak seperti masalah permabukan ini.
Orang tersebut adalah laki laki yang berumur sekitar 40 sampai 50an, berpenampilan sederhana, dengan tas punggung yang sepertinya sudah lama menemaninya, warnaya sudah kusut dan resletingnya sudah rusak. Saat menerima sms, terlihatlah bahwa handphonenya pun sederhana yang bahkan hurufnya sudah tak terlihat jelas lagi. Meskipun berpenampilan minimalis eh mungkin lebih tepat dibilang sederhana, Bapak tersebut bisa memberikan manfaat kepada orang laian meskipun hanya dengan sebuah kantong plastik.
Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)
Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani)
“Pemberhentian selanjutnya, PANCORAN TUGU, perhatikan barang bawaan anda, dan hati hati melangkah, terima kasih …… Next Stop. PANCORAN TUGU shelter, check your belonging and step carefully, Thank You” suara rekaman itu pun sudah terdengar, berarti sesaat lagi saya segera turun. Alhamdulillah saya dipertemukan dengan sebuah pelajaran berharaga di dalam Bus Trans Jakarta ini. Semoga kita bisa mengambil ibrah dari segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita.
@t kamar (3 x 2,5)m2, Jalan Pancoran Barat IV D no number ......
referensi : disini
Sore hari, bada Ashar. Dalam perjalanan dari halte Semanggi menuju halte Pancoran Tugu dengan bus Trans Jakarta. Seperti biasa, bus ini selalu penuh penumpang. Banyak penumpang yang bergelantungan terutama di dekat pintu. Bus yang ber-AC itupun sudah seperti bus non AC. Udara dingin sudah terserap oleh banyak orang dan dikalahkan oelh panas tubuh mereka. Situasi ini membuat para korban mabuk perjalanan segera berkontaksi alias penyakitnya kambuh. Perutpun mulai terasa mual, kepala pusing, pandangan berkunang-kunang, keringat mengalir deras, dll.
Dan dengan segera dia memberitahukan ke orang di sebelahnya atau orang yang bepergian bersamanya bahwa titik kritis permabukan ini akan segera tercapai. Pencapaian titik kritis ini biasanya adalah seperti gunung berapi yang mengeluarkan lava pijar dari dalam perut bumi (agak lebai sih) yang bahasa sederhananya muntah. Segala apa yang ada di perutnya akan keluar denagn berbagai bentuk yang membuat kita malas makan (hehehehe). Jika dia ingin memuntahkan di situ sebenarnya tidak masalah karena di berbagai kendaraan umum hal tersebut sudah biasa. Tapi masalahnya ini Busway bung, eh bus Trans Jakarta yang sangat fenomenal itu. Dan pencarian tempat pembuangan isi perut pun dimulai.
Di dalam bus Trans Jakarta, kalo kita bertanya ke seluruh penumpang siapakah yang mempunyai Blackberry, pasti mayoritas akan dengan bangga mengangkat tangannya tinggi tinggi. Atau jika kita tanya siapakah yang sudah ber-social networking saat sedang naik bus ini, pasti jawabannya adalah “Gu3 9e3to0 Lo0ooccHHH … H4re33 9e3ne33 k4gAk P3sbuK4n …. Gak gaul !!!!” (capek & pusing nulisnya). Pertanyaan terakhir adalah siapa yang suka music, pasti mayoritas menjawab ya, dengan menunjukkan gadget mereka dengan playlist lagu favorit dengan headphone tercanggih yang bias membedakan bass, treble, dll
Kembali ke masalah permabukan dalam perjalanan tadi, saat kebutuhan akan kantong plastic begitu mendesak, mulailah teman/saudara/atau yang terdekat dengan korban mencari kantong plastic untuk menampung limbah perut sang korban. Bertanya ke satu, dua, tiga bahkan sampai orang ke tujuh, kantong plastic pun belum bias ditemukan. Padahal jika kita bertanya dengan pertanyaan “diatas” pasti mayoritas punya. Dan akhirnya, ada sesosok bayangan (eh bukan) ternyata manusia, yang Nampak berbeda dengan penumpang mayoritas di bus tersebut yang mempunyai kantong plastic “bekas” dia membeli minuman di minimarket. Ternyata Orang tersebut tidak membuang kantong palstiknya dan disimpan dalam tasnya sebagai persediaan untuk jaga2 jika ada hal yang mendesak seperti masalah permabukan ini.
Orang tersebut adalah laki laki yang berumur sekitar 40 sampai 50an, berpenampilan sederhana, dengan tas punggung yang sepertinya sudah lama menemaninya, warnaya sudah kusut dan resletingnya sudah rusak. Saat menerima sms, terlihatlah bahwa handphonenya pun sederhana yang bahkan hurufnya sudah tak terlihat jelas lagi. Meskipun berpenampilan minimalis eh mungkin lebih tepat dibilang sederhana, Bapak tersebut bisa memberikan manfaat kepada orang laian meskipun hanya dengan sebuah kantong plastik.
Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)
Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani)
“Pemberhentian selanjutnya, PANCORAN TUGU, perhatikan barang bawaan anda, dan hati hati melangkah, terima kasih …… Next Stop. PANCORAN TUGU shelter, check your belonging and step carefully, Thank You” suara rekaman itu pun sudah terdengar, berarti sesaat lagi saya segera turun. Alhamdulillah saya dipertemukan dengan sebuah pelajaran berharaga di dalam Bus Trans Jakarta ini. Semoga kita bisa mengambil ibrah dari segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita.
@t kamar (3 x 2,5)m2, Jalan Pancoran Barat IV D no number ......
referensi : disini



0 comments
Posting Komentar