Re Run

Jumat, 03 Juni 2011

Kamis, 2 Juni 2011
Seorang anak kecil laki laki berpakaian kaos timnas warna merah bernomor punggung sembilan dengan nama Gonzales datang menghampiri. Dia membawa setumpuk koran dan kipas dari anyaman bambu. “Koran Om .... buat gelaran .... seribu rupiah ..... kipasnya dua ribu ...koran Om !!! ...” kurang lebih begitu kalimatnya saat menjajakan “dagangan”nya. Beberapa saat kemudian munculah teman-temannya sesama pedagang sambil mempromosikan dagangannya dengan suara khas.

Di sisi lain, banyak orang laki laki, perempuan, tua, muda, anak kecil sibuk membawa tas dan koper mereka. Ada yang mencari tempat duduk kosong di ruang tunggu. Ada yang ke toilet. Ada yang makan dan minum. Ada yaang duduk di lantai karena tidak kebagian tempat duduk. Ada yang sholat di masjid karena sudah masuk waktu sholat. Mereka membawa beraneka tas seperti tas punggung, tas jinjing, koper beroda, tas plastik, bahkan kardus. Sepertinya mereka akan pergi ke tempat yang jauh.

Di tempat ini, biasanya orang orang akan memulai atau mengakhiri suatu perjalanan jauh. Mereka naik alat transportasi yang terdiri atas gabungan gerbong yang ditarik oleh lokomotif melalui jalur besi sejajar dengan bantalan kayu atau beton. Secara sederhana, orang menyebutnya kereta api. Di tempat ini ada loket penjualan dan pemesanan tiket. Ada ruang tunggu. Ada rumah makan. Ada warung rokok. Ada minimarket. Ada ATM. Tempat inilah yang disebut sebagai stasiun.

Hari ini, Kamis 2 Juni 2011 saya kembali lagi berada di tempat ini, setelah terakhir kali mungkin setahun yang lalu. Stasiun Pasar Senen, inilah tempat yang biasanya digunakan untuk memulai perjalanan panjang menuju kampung halaman tercinta di Jawa Tengah. Dan akhirnya, hari ini saya naik kereta api lagi. Meskipun tujuannya ke Solo, tapi saya lebih memilih untuk naik kereta Senja Utama Yogyakarta. Alasannya ? Sssstt Rahasia.

Bukankah saya seharusnya kerja di Surabaya, kok bisa naik kereta dari Jakarta. Insya Allah saya ceritakan di tulisan yang lain.

Perjalanan ini dimulai dari rumah kos saya di daerah Pancoran, Jakarta Selatan. Setelah berjalan kaki sebentar, sampailah saya di depan Masjid Al Munawar di jalan raya Pancoran-Pasar Minggu. Saya pun naik metromini 62 menuju patung pancoran kemudian ganti naik bus kota jurusan Pulo Gadung - Blok M. Setelah window shoping sebentar dan membeli roti unyil untuk oleh-oleh, saya naik bus kota jurusan Blok M – Senen. Tepat saat Adzan Maghrib, saya sampai di terminal Senen dan kemudian berjalan menuju stasiun Pasar Senen.

Seperti pada perjalanan sebelum-sebelumnya, saya jarang sekali pesan tiket untuk mudik. Biasanya saya langsung membeli di loket. Karena sering mudik pada hari biasa, saya selalu dapat tiket dengan tempat duduk. Pernah juga saya hanya mendapat tiket berdiri, tapi itu tidak menjadi masalah. Justru inilah sensasi dan pengalaman yang luar biasa. Dan Alhamdulillah hari ini saya mendapat tiket dengan tempat duduk untuk kereta api Senja Utama Yogyakarta. Coab kalo saya pulangnya hari rabu kemaren (1 Juni 2011) pasti tidak kebagian tempat duduk, karena long weekend akibat revisi cuti bersama “lagi”.

Apa yang anda lihat dan rasakan saat berada di dalam kereta api menuju susatu tempat ? Silahkan dijawab dalam hati masing masing. Tapi menurut saya, setelah sekian lama bepergian naik kereta api, yang saya lihat adalah suatu proses marketing/ pemasaran. Berbagai produk dan jasa dipromosikan selama sebelum, saat dan setelah perjalanan dengan kereta api. Jasa tiket non loket alias calo, jasa penitipan barang, produk makanan, minuman, buku, kacamata, dan elektronik semua bergantian ditawarkan kepada penumpang. Seiring berkembangnya teknologi terutama produk HP, sekarang ada barang dagangan yang menurut saya baru, yaitu charger portable untuk semua merek Handphone. Marketing memang hebat.

Seperti biasa juga, pedagang kopi dan Pop Mie dengan suaranya yang khas selalu giat menawarkan walaupun para penumpang mungkin sudah bosan mendengarnya. Makanan khas daerah seperti sale pisang, dodol garut, wingko babat, gethuk goreng dan lanting masih selalu tersedia di kereta api ini. “Penjaja” makanan dari pihak internal PT KAI sepertinya sudah mulai menjiplak metode pedagang asongan dalam menawarkan servis makan malam, minuman dan penjualan souvenir kereta api. Tidak banyak perubahan yang terjadi di dalam perjalanan kereta api ini.

Perjalanan malam hari dengan kereta api tidak lepas dari bagaimana posisi tidur. Tidur sambil duduk di kursi mungkin sudah biasa. Tidur di dua tempat duduk karena banyak kursi yang kosong atau orang di sebelah pengen tidur di bawah. Tidur di bawah karena kita yang meminta ke orang sebelah agar dia bisa menggunakan dua kursi. Atau yang terakhir tidur di tengah jalan yang biasa dilewati para pedagang. Seluruhnya sudah pernah saya lakukan, dan bahkan semalaman tidak tidur sama sekali karena ngobrol dengan teman SMA yang jadi POLSUSKA.

Dan kereta api pun sampai di stasiun Tugu Yogyakarta tepat pukul 4:30 pagi (berdasarkan jam di HP saya). Antrean di toilet dilanjutkan dengan antrean di tempat wudhu yang kemudian Sholat Subuh berjamaah di masjid Stasiun Tugu. Beberapa penumpang sudah dijemput, ada juga yang naik taksi, becak, dan ojek menuju tujuan mereka masing masing. Toko-toko di stasiun masih banyak yang tutup. Pedagang koran pun masih menta koran yang baru datang. Saya langsung menuju loket pembelian tiket kereta Prambanan Express (Prameks) tujuan Solo yang berangkat pukul 5:35 pagi.


0 comments