Kantong Plastik

Minggu, 12 Juni 2011

Ada orang yang mudah mabuk perjalanan. Biasanya mereka akan merasa mual dan ingin muntah. Naik bis, kereta, pesawat, atau kapal laut bias membuat mereka mabuk. Untuk menaggulanginya mereka naik kendaraan yang menurut mereka paling nyaman dan sebelum berangkat minum obat anti mabuk dahulu.

Sore hari, bada Ashar. Dalam perjalanan dari halte Semanggi menuju halte Pancoran Tugu dengan bus Trans Jakarta. Seperti biasa, bus ini selalu penuh penumpang. Banyak penumpang yang bergelantungan terutama di dekat pintu. Bus yang ber-AC itupun sudah seperti bus non AC. Udara dingin sudah terserap oleh banyak orang dan dikalahkan oelh panas tubuh mereka. Situasi ini membuat para korban mabuk perjalanan segera berkontaksi alias penyakitnya kambuh. Perutpun mulai terasa mual, kepala pusing, pandangan berkunang-kunang, keringat mengalir deras, dll.

Dan dengan segera dia memberitahukan ke orang di sebelahnya atau orang yang bepergian bersamanya bahwa titik kritis permabukan ini akan segera tercapai. Pencapaian titik kritis ini biasanya adalah seperti gunung berapi yang mengeluarkan lava pijar dari dalam perut bumi (agak lebai sih) yang bahasa sederhananya muntah. Segala apa yang ada di perutnya akan keluar denagn berbagai bentuk yang membuat kita malas makan (hehehehe). Jika dia ingin memuntahkan di situ sebenarnya tidak masalah karena di berbagai kendaraan umum hal tersebut sudah biasa. Tapi masalahnya ini Busway bung, eh bus Trans Jakarta yang sangat fenomenal itu. Dan pencarian tempat pembuangan isi perut pun dimulai.

Di dalam bus Trans Jakarta, kalo kita bertanya ke seluruh penumpang siapakah yang mempunyai Blackberry, pasti mayoritas akan dengan bangga mengangkat tangannya tinggi tinggi. Atau jika kita tanya siapakah yang sudah ber-social networking saat sedang naik bus ini, pasti jawabannya adalah “Gu3 9e3to0 Lo0ooccHHH … H4re33 9e3ne33 k4gAk P3sbuK4n …. Gak gaul !!!!” (capek & pusing nulisnya). Pertanyaan terakhir adalah siapa yang suka music, pasti mayoritas menjawab ya, dengan menunjukkan gadget mereka dengan playlist lagu favorit dengan headphone tercanggih yang bias membedakan bass, treble, dll

Kembali ke masalah permabukan dalam perjalanan tadi, saat kebutuhan akan kantong plastic begitu mendesak, mulailah teman/saudara/atau yang terdekat dengan korban mencari kantong plastic untuk menampung limbah perut sang korban. Bertanya ke satu, dua, tiga bahkan sampai orang ke tujuh, kantong plastic pun belum bias ditemukan. Padahal jika kita bertanya dengan pertanyaan “diatas” pasti mayoritas punya. Dan akhirnya, ada sesosok bayangan (eh bukan) ternyata manusia, yang Nampak berbeda dengan penumpang mayoritas di bus tersebut yang mempunyai kantong plastic “bekas” dia membeli minuman di minimarket. Ternyata Orang tersebut tidak membuang kantong palstiknya dan disimpan dalam tasnya sebagai persediaan untuk jaga2 jika ada hal yang mendesak seperti masalah permabukan ini.

Orang tersebut adalah laki laki yang berumur sekitar 40 sampai 50an, berpenampilan sederhana, dengan tas punggung yang sepertinya sudah lama menemaninya, warnaya sudah kusut dan resletingnya sudah rusak. Saat menerima sms, terlihatlah bahwa handphonenya pun sederhana yang bahkan hurufnya sudah tak terlihat jelas lagi. Meskipun berpenampilan minimalis eh mungkin lebih tepat dibilang sederhana, Bapak tersebut bisa memberikan manfaat kepada orang laian meskipun hanya dengan sebuah kantong plastik.

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani)

“Pemberhentian selanjutnya, PANCORAN TUGU, perhatikan barang bawaan anda, dan hati hati melangkah, terima kasih …… Next Stop. PANCORAN TUGU shelter, check your belonging and step carefully, Thank You” suara rekaman itu pun sudah terdengar, berarti sesaat lagi saya segera turun. Alhamdulillah saya dipertemukan dengan sebuah pelajaran berharaga di dalam Bus Trans Jakarta ini. Semoga kita bisa mengambil ibrah dari segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita.

@t kamar (3 x 2,5)m2, Jalan Pancoran Barat IV D no number ......

referensi : disini
Read More..

Re Run

Jumat, 03 Juni 2011

Kamis, 2 Juni 2011
Seorang anak kecil laki laki berpakaian kaos timnas warna merah bernomor punggung sembilan dengan nama Gonzales datang menghampiri. Dia membawa setumpuk koran dan kipas dari anyaman bambu. “Koran Om .... buat gelaran .... seribu rupiah ..... kipasnya dua ribu ...koran Om !!! ...” kurang lebih begitu kalimatnya saat menjajakan “dagangan”nya. Beberapa saat kemudian munculah teman-temannya sesama pedagang sambil mempromosikan dagangannya dengan suara khas.

Di sisi lain, banyak orang laki laki, perempuan, tua, muda, anak kecil sibuk membawa tas dan koper mereka. Ada yang mencari tempat duduk kosong di ruang tunggu. Ada yang ke toilet. Ada yang makan dan minum. Ada yaang duduk di lantai karena tidak kebagian tempat duduk. Ada yang sholat di masjid karena sudah masuk waktu sholat. Mereka membawa beraneka tas seperti tas punggung, tas jinjing, koper beroda, tas plastik, bahkan kardus. Sepertinya mereka akan pergi ke tempat yang jauh.

Di tempat ini, biasanya orang orang akan memulai atau mengakhiri suatu perjalanan jauh. Mereka naik alat transportasi yang terdiri atas gabungan gerbong yang ditarik oleh lokomotif melalui jalur besi sejajar dengan bantalan kayu atau beton. Secara sederhana, orang menyebutnya kereta api. Di tempat ini ada loket penjualan dan pemesanan tiket. Ada ruang tunggu. Ada rumah makan. Ada warung rokok. Ada minimarket. Ada ATM. Tempat inilah yang disebut sebagai stasiun.

Hari ini, Kamis 2 Juni 2011 saya kembali lagi berada di tempat ini, setelah terakhir kali mungkin setahun yang lalu. Stasiun Pasar Senen, inilah tempat yang biasanya digunakan untuk memulai perjalanan panjang menuju kampung halaman tercinta di Jawa Tengah. Dan akhirnya, hari ini saya naik kereta api lagi. Meskipun tujuannya ke Solo, tapi saya lebih memilih untuk naik kereta Senja Utama Yogyakarta. Alasannya ? Sssstt Rahasia.

Bukankah saya seharusnya kerja di Surabaya, kok bisa naik kereta dari Jakarta. Insya Allah saya ceritakan di tulisan yang lain.

Perjalanan ini dimulai dari rumah kos saya di daerah Pancoran, Jakarta Selatan. Setelah berjalan kaki sebentar, sampailah saya di depan Masjid Al Munawar di jalan raya Pancoran-Pasar Minggu. Saya pun naik metromini 62 menuju patung pancoran kemudian ganti naik bus kota jurusan Pulo Gadung - Blok M. Setelah window shoping sebentar dan membeli roti unyil untuk oleh-oleh, saya naik bus kota jurusan Blok M – Senen. Tepat saat Adzan Maghrib, saya sampai di terminal Senen dan kemudian berjalan menuju stasiun Pasar Senen.

Seperti pada perjalanan sebelum-sebelumnya, saya jarang sekali pesan tiket untuk mudik. Biasanya saya langsung membeli di loket. Karena sering mudik pada hari biasa, saya selalu dapat tiket dengan tempat duduk. Pernah juga saya hanya mendapat tiket berdiri, tapi itu tidak menjadi masalah. Justru inilah sensasi dan pengalaman yang luar biasa. Dan Alhamdulillah hari ini saya mendapat tiket dengan tempat duduk untuk kereta api Senja Utama Yogyakarta. Coab kalo saya pulangnya hari rabu kemaren (1 Juni 2011) pasti tidak kebagian tempat duduk, karena long weekend akibat revisi cuti bersama “lagi”.

Apa yang anda lihat dan rasakan saat berada di dalam kereta api menuju susatu tempat ? Silahkan dijawab dalam hati masing masing. Tapi menurut saya, setelah sekian lama bepergian naik kereta api, yang saya lihat adalah suatu proses marketing/ pemasaran. Berbagai produk dan jasa dipromosikan selama sebelum, saat dan setelah perjalanan dengan kereta api. Jasa tiket non loket alias calo, jasa penitipan barang, produk makanan, minuman, buku, kacamata, dan elektronik semua bergantian ditawarkan kepada penumpang. Seiring berkembangnya teknologi terutama produk HP, sekarang ada barang dagangan yang menurut saya baru, yaitu charger portable untuk semua merek Handphone. Marketing memang hebat.

Seperti biasa juga, pedagang kopi dan Pop Mie dengan suaranya yang khas selalu giat menawarkan walaupun para penumpang mungkin sudah bosan mendengarnya. Makanan khas daerah seperti sale pisang, dodol garut, wingko babat, gethuk goreng dan lanting masih selalu tersedia di kereta api ini. “Penjaja” makanan dari pihak internal PT KAI sepertinya sudah mulai menjiplak metode pedagang asongan dalam menawarkan servis makan malam, minuman dan penjualan souvenir kereta api. Tidak banyak perubahan yang terjadi di dalam perjalanan kereta api ini.

Perjalanan malam hari dengan kereta api tidak lepas dari bagaimana posisi tidur. Tidur sambil duduk di kursi mungkin sudah biasa. Tidur di dua tempat duduk karena banyak kursi yang kosong atau orang di sebelah pengen tidur di bawah. Tidur di bawah karena kita yang meminta ke orang sebelah agar dia bisa menggunakan dua kursi. Atau yang terakhir tidur di tengah jalan yang biasa dilewati para pedagang. Seluruhnya sudah pernah saya lakukan, dan bahkan semalaman tidak tidur sama sekali karena ngobrol dengan teman SMA yang jadi POLSUSKA.

Dan kereta api pun sampai di stasiun Tugu Yogyakarta tepat pukul 4:30 pagi (berdasarkan jam di HP saya). Antrean di toilet dilanjutkan dengan antrean di tempat wudhu yang kemudian Sholat Subuh berjamaah di masjid Stasiun Tugu. Beberapa penumpang sudah dijemput, ada juga yang naik taksi, becak, dan ojek menuju tujuan mereka masing masing. Toko-toko di stasiun masih banyak yang tutup. Pedagang koran pun masih menta koran yang baru datang. Saya langsung menuju loket pembelian tiket kereta Prambanan Express (Prameks) tujuan Solo yang berangkat pukul 5:35 pagi.


Read More..