Assalamu alaikum Wr Wb
Kalender telah sampai halaman terakhir dan hari terakhir untuk Tahun Masehi. Tahunn 2009 akan segera berganti menjadi 2010. Umur bertambah tapi makin dekat menuju ajal. Berikut akan aku sampaikan beberapa memori di tahun 2009 dan resolusiku tahun 2010
MEMORY 2009
1. Jadi Ketua Kelas
setelah libur lama mulai desember 2008 sampai awal februari 2009, akhirnya kami semua memasuki semester 8 perkuliahan DIV akuntansi STAN. Aku masuk kelas C dan sekelas dengan Haris sang ketua kelas semester sebelumnya. Pada awal perkuliahan dilakukan pemilihan ketua kelas yang baru karena Haris ingin fokus pada menunggu kelahiran anak pertamanya. Setelah melalui proses voting yang ketat, akhirnya aku terpilih menjadi ketua kelas. Memori ini memang tak terlupakan, aku yang tidak pernah bersuara di kelas harus menjadi ketua kelas dan menjadi pemimpin teman2 lainnya. Aku harus menghubungi dosen, hubungan dengan sekretariat, mengkoordinasi teman teman, dll. Aku memang menikmati jadi ketua kelas walaupun masih ada rasa keterpaksaan.
Yang menjadi masalah adalah saat di kelas aku belum bisa memposisikan diri sebagai ketua kelas karena aku tidak aktif bertanya, menanggapi pendapat teman, maupun keaktifan perkuliahan lainnya. Biasanya sebagai ketua kelas, orang tersebut harus aktif di kelas untuk memacu keaktifan anak buahnya.
Masalah yang kedua adalah akau sering terlambat datang ke kelas. Apalagi ditambah jika belum ada ruang kelasnya. Aku datang terlambat, ruangan belum didapat, dosenpun masuk terlambat sehingga perkuliahan terlambat dimulai dan berakhir mundur dari jadwal semula dan mengganggu aktivitas setelah kuliah. Mohon maaf sebesar-besarnya bagi seluruh teman2 ku semester 8 kelas C.
2. Sakit 2 bulan
Sebelum perkuliahan aku sudah merasa sakit di rumah, tapi belum begitu parah dan kuputuskan tetap berangkat ke Jakarta dengan harapan nanti juga sembuh sendiri. Ternyata di Jakarta sakitku menjadi semakin parah. Penyakit ini tidak perlu aku publikasikan disini. Di satu sisi aku bertanggung jawab sebagai ketua kelas, di sisi lain aku menderita sakit tapi tidak terlihat kalau aku sakit. Aku mulai periksa awal Maret 2009 dan sempat mengalami operasi ringan. Butuh biaya yang tidak sedikit untuk penyakitku ini. Meskipun begitu aku tidak pernah seharipun ijin karena penyakit ini. Aku berusaha tetap masuk. Karena penyakit inilah konsentrasiku terpecah antara kuliah, ketua kelas dan sakit. Dan hasil akhir dari semester 8 kurang begitu memuaskan. Alhamdulillah aku sudah sembuh total pada akhir April 2009.
3. Mbah Darto meninggal
Mbahku yang terakhir (Mbah dari papi, dan mbah kakung dari ibu sudah meninggal) meninggal di tahun 2009 pas awal bulan Ramadhan 1430 H. Mbah Darto yang dulu sebagai penjual jamu keliling dan tukang pijat bayi meninggal setelah sakit kurang lebih tiga minggu sebelumnya. Kata Omku mbah Darto terjatuh dan sejak saat itu beliau tidak sadar, tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain. Akhir akhir ini aku memang seperti menghindar jika disuruh mampir ke rumah Mbah. Padahal waktu kecil dulu aku yang paling ngeyel minta ke rumah mbah Darto bahkan kalau bisa tinggal disana seterusnya. Pertemuan terakhirku dengan beliau pun hanya pertemuan fisik saja karena beliau sudah tidak sadar atas kehadiran orang lain walaupun matanya terbuka dan bisa berbicara. Dan akhirnya beliau pun menghembuskan nafas terakhir saat orang orang sedang berbuka puasa tahun ini. Aku masih berada di Jakarta dan tidak bisa pulang, aku teringat ketika dulu minum jamu gratis, ikut menumbuk bahan untuk jamu, mainan botol jamu, lihat anak kecil dipijat, dll. Aku pernah diajak piknik ke Semarang dan ke masjid Demak, aku selalu ditawari makan telur ceplok, dibelikan mie ayam dll. Selamat Jalan mbah Darto, mohon maaf untuk cucumu yang berdosa ini. Semoga amal ibadahmu diterima disisi Nya dan diampuni semua dosa2nya.
Dan berikutnya pada bulan November (klo ga salah) kakak mbah Darto yang dari dulu tinggal serumah di Solo juga meninggal dunia. Namanya Mbah Madyo. Habis sudah generasi tua di keluargaku. Waktu kecil aku sering diberi jajanan tradisional dan buah buahan karena mbah Madyo memang berjualan di pasar Danukusuman Solo. Meskipun sudah tua, namun kedua mbahku ini masih tetap berusaha dengan menggendng bakul untuk mencari uang. Kadang mereka juga menjual kain dan pakaian ke Gading walaupun harganya tidak seberapa hanya sekedar untuk membayar utang arisan atau utang ke warung. Mereka berprinsip tidak mau menyusahkan anak dan cucu mereka. aku benar benar cucu yang durhaka .... Astaghfirullah ...
4. Idul Fitri dan Idul Adha yang berbeda dari biasanya
Setelah meninggalnya mbah Darto maka Idul Fitri tahun 1430 H ini kami rayakan di Sukoharjo saja. Sudah tidak ada lagi rumah rang yang dituakan seperti tahun tahun sebelumnya. Aku dan keluarga Sholat Ied di alun alun Sukoharjo. Seluruh adik ibu datang pada hari berikutnya. Lebaran kali ini memang berbeda dengan lebaran sebelumnya. Suasana haru semakin terasa ketika kami melihat foto foto mbah Darto beberapa waktu lalu saat kami sekeluarga berkumpul di Tawangmangu.
Sedangkan saat Idul Adha 1430 H, aku tidak pulang kampung. aku sholat Ied di masjid Istiqlal sebagaimana tulisan sebelumnya. Awalnya memang terasa biasa biasa saja saat menyatakan untuk tidak mudik, tetapi pada hari H begitu terasa rasa rindu kepada keluarga di rumah saat melihat para jamaah sholat Ied yang berombongan sekeluarga.
5. Ikut meramaikan lalu lintas Jakarta
Setelah Idul Fitri 1430 H, kami mulai lagi setengah semester terakhir di semseter 9 DIV STAN. Dan kabar gembiranya adalah ruang kuliah dipindahkan sementara ke kantor BPPK di purnawarman karena kampus STAN di Bitaro sedang dilakukan renovasi total. Kampus di Purnawarman terletak di daerah Blok M dan berdekatan dengan markas POLRI yang pada saat itu sedang hangat kasus cicak vs buaya.
Dari Bintaro ke Purnawarman memang tidak terlalu jauh. Tapi yang namanya lalu lintas Jakarta yang padat dan pasti macet membuat perjalanan jadi lama. Pertama kali aku berangkat lebih dari sejam sebelu kuliah dimulai sebagai pemanasan dan pengenalan rute perjalanan. Namun beberapa minggu terkahir aku dah bisa mencapai purnawarman dalam waktu 40 - 50 menit saja. Aku sudah hafal jalur yang kurang begitu padat sehingga bisa menghemat waktu perjalanan.
Selama bolak balik ke Purnawarman aku berboncengan dengan teman yang tidak membawa sepeda motor di Jakarta. Karena ada tanggungan inilah, aku dilatih untuk bertanggung jawab terhadap temenku itu dan berusaha tepat waktu. Masalah ketepatan waktu yang tidak bisa kulakukan saat tempat perkuliahan di Bintaro yang jaraknya dekat dan pada hal hal lain, seolah diuji dengan pindahnya perkuliahan ke Purnawarman. Aku jadi mengerti arti ketepatan waktu (on time) yang dari dulu diajarkan Papiku. Inilah salah satu hikmah dalam perpindahan kampus STAN.
5. Menghadiri acara Teman dan Piknik
Selama tahun 2009 aku menghadiri banyak acara yang diadakan teman taman seperti pernikahan dan aqiqah anak mereka. Aku datang ke pernikahan Aris di Bandung, Burhan di Purwodadi, Mas agung di Tasik, Reza di Tangerang, Helmi di Jakbar, Doni di Wates, dsb. Kemudian aku menghadiri acara aqiqah anak mas Dimas dan anak Faiq.
KAPAN YA AKU NYUSUL MEREKA ???
Acara yang melibatkan kaluarga adalah pad akhir tahun ini aku pergi ke khitanan anak saudaraku di Cirebon.
Untuk perjalanan wisata di tahun 2009 ini seperti biasa aku piknik saat liburan kuliahbersama teman teman yang itu itu saja (bisa dilihat di FB).
GIORNATA 14 CATANIA vs AC MILAN 29-11-2009
16 tahun yang lalu



0 comments
Posting Komentar