1 Muharram 1431 Hijriyah

Jumat, 18 Desember 2009

Assalamu alaikum Wr Wb
Di sela2 kesibukan penyusunan skripsi, kucoba menulis lagi. Hari ini adalah tahun baru Hijriyah. Walaupun baru lewat beberapa menit saja kalo patokannya jam 12 malam ini. Aku baru saja selesai menonton pemutaran perdana film Sang Pemimpi. Ini adalah nonton pemutaran perdana suatu film yang kesekian kalinya aku nonton jam paling akhir. Jadi nontonnya ya sambil ngantuk ngantuk dikit.

Aku tidak membahas film Sang Pemimpi di tulisan ini, tapi akan menggali kembali memori masa lalu tentang tahun baru Hijriyah atau biasa disebut Satu Suro kalo di Jawa. Memori yang samar samar masih terngiang di pikiranku.
Dulu waktu kecil, apalagi sebelum kelahiran adikku, aku selalu merengek rengek kepada Papi dan Ibu untuk pergi ke rumah mbah di Solo tiap ada hari libur termasuk libur tahun baru Hijriyah. Pergi ke rumah Mbah di Solo merupakan hal yang sangat menyenangkan karena saat itu di rumah Mbah dah punya televisi berwarna, ... ya ... televisi berwarna. Selain itu tiap kali nginep di rumah Mbah aku selalu diajak keliling kota Solo sama Om ku naik motor dan dibelikan mainan. (MANJA BANGET)
Khusus pada malam Satu Suro, aku pasti diajak menonton kirab pusaka dan Kebo Kyai Slamet dari Keraton Surakarta. Kata mbahku, kalo nonton kirab jangan pake baju merah, nanti kerbaunya marah dan mengamuk. Aku membayangkan hal itu seperti atraksi Matador di Spanyol. Hal lain adalah tentang kepercayaan masyarakat mengenai kotoran kerbau yang bisa menyuburkan tanaman dan membuat panen lebih melimpah. Air bekas mencuci pusaka bisa memberikan berkah, makanya masyarakat sampai berebutan kotoran kerbau dan air bekas mencuci pusaka tersebut. Itulah gambaran budaya di Solo saat malam Satu Suro.


0 comments