Memori 2009 & Resolusi 2010

Kamis, 31 Desember 2009

Assalamu alaikum Wr Wb
Kalender telah sampai halaman terakhir dan hari terakhir untuk Tahun Masehi. Tahunn 2009 akan segera berganti menjadi 2010. Umur bertambah tapi makin dekat menuju ajal. Berikut akan aku sampaikan beberapa memori di tahun 2009 dan resolusiku tahun 2010

MEMORY 2009
1. Jadi Ketua Kelas
setelah libur lama mulai desember 2008 sampai awal februari 2009, akhirnya kami semua memasuki semester 8 perkuliahan DIV akuntansi STAN. Aku masuk kelas C dan sekelas dengan Haris sang ketua kelas semester sebelumnya. Pada awal perkuliahan dilakukan pemilihan ketua kelas yang baru karena Haris ingin fokus pada menunggu kelahiran anak pertamanya. Setelah melalui proses voting yang ketat, akhirnya aku terpilih menjadi ketua kelas. Memori ini memang tak terlupakan, aku yang tidak pernah bersuara di kelas harus menjadi ketua kelas dan menjadi pemimpin teman2 lainnya. Aku harus menghubungi dosen, hubungan dengan sekretariat, mengkoordinasi teman teman, dll. Aku memang menikmati jadi ketua kelas walaupun masih ada rasa keterpaksaan.
Yang menjadi masalah adalah saat di kelas aku belum bisa memposisikan diri sebagai ketua kelas karena aku tidak aktif bertanya, menanggapi pendapat teman, maupun keaktifan perkuliahan lainnya. Biasanya sebagai ketua kelas, orang tersebut harus aktif di kelas untuk memacu keaktifan anak buahnya.
Masalah yang kedua adalah akau sering terlambat datang ke kelas. Apalagi ditambah jika belum ada ruang kelasnya. Aku datang terlambat, ruangan belum didapat, dosenpun masuk terlambat sehingga perkuliahan terlambat dimulai dan berakhir mundur dari jadwal semula dan mengganggu aktivitas setelah kuliah. Mohon maaf sebesar-besarnya bagi seluruh teman2 ku semester 8 kelas C.
2. Sakit 2 bulan
Sebelum perkuliahan aku sudah merasa sakit di rumah, tapi belum begitu parah dan kuputuskan tetap berangkat ke Jakarta dengan harapan nanti juga sembuh sendiri. Ternyata di Jakarta sakitku menjadi semakin parah. Penyakit ini tidak perlu aku publikasikan disini. Di satu sisi aku bertanggung jawab sebagai ketua kelas, di sisi lain aku menderita sakit tapi tidak terlihat kalau aku sakit. Aku mulai periksa awal Maret 2009 dan sempat mengalami operasi ringan. Butuh biaya yang tidak sedikit untuk penyakitku ini. Meskipun begitu aku tidak pernah seharipun ijin karena penyakit ini. Aku berusaha tetap masuk. Karena penyakit inilah konsentrasiku terpecah antara kuliah, ketua kelas dan sakit. Dan hasil akhir dari semester 8 kurang begitu memuaskan. Alhamdulillah aku sudah sembuh total pada akhir April 2009.
3. Mbah Darto meninggal
Mbahku yang terakhir (Mbah dari papi, dan mbah kakung dari ibu sudah meninggal) meninggal di tahun 2009 pas awal bulan Ramadhan 1430 H. Mbah Darto yang dulu sebagai penjual jamu keliling dan tukang pijat bayi meninggal setelah sakit kurang lebih tiga minggu sebelumnya. Kata Omku mbah Darto terjatuh dan sejak saat itu beliau tidak sadar, tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain. Akhir akhir ini aku memang seperti menghindar jika disuruh mampir ke rumah Mbah. Padahal waktu kecil dulu aku yang paling ngeyel minta ke rumah mbah Darto bahkan kalau bisa tinggal disana seterusnya. Pertemuan terakhirku dengan beliau pun hanya pertemuan fisik saja karena beliau sudah tidak sadar atas kehadiran orang lain walaupun matanya terbuka dan bisa berbicara. Dan akhirnya beliau pun menghembuskan nafas terakhir saat orang orang sedang berbuka puasa tahun ini. Aku masih berada di Jakarta dan tidak bisa pulang, aku teringat ketika dulu minum jamu gratis, ikut menumbuk bahan untuk jamu, mainan botol jamu, lihat anak kecil dipijat, dll. Aku pernah diajak piknik ke Semarang dan ke masjid Demak, aku selalu ditawari makan telur ceplok, dibelikan mie ayam dll. Selamat Jalan mbah Darto, mohon maaf untuk cucumu yang berdosa ini. Semoga amal ibadahmu diterima disisi Nya dan diampuni semua dosa2nya.
Dan berikutnya pada bulan November (klo ga salah) kakak mbah Darto yang dari dulu tinggal serumah di Solo juga meninggal dunia. Namanya Mbah Madyo. Habis sudah generasi tua di keluargaku. Waktu kecil aku sering diberi jajanan tradisional dan buah buahan karena mbah Madyo memang berjualan di pasar Danukusuman Solo. Meskipun sudah tua, namun kedua mbahku ini masih tetap berusaha dengan menggendng bakul untuk mencari uang. Kadang mereka juga menjual kain dan pakaian ke Gading walaupun harganya tidak seberapa hanya sekedar untuk membayar utang arisan atau utang ke warung. Mereka berprinsip tidak mau menyusahkan anak dan cucu mereka. aku benar benar cucu yang durhaka .... Astaghfirullah ...
4. Idul Fitri dan Idul Adha yang berbeda dari biasanya
Setelah meninggalnya mbah Darto maka Idul Fitri tahun 1430 H ini kami rayakan di Sukoharjo saja. Sudah tidak ada lagi rumah rang yang dituakan seperti tahun tahun sebelumnya. Aku dan keluarga Sholat Ied di alun alun Sukoharjo. Seluruh adik ibu datang pada hari berikutnya. Lebaran kali ini memang berbeda dengan lebaran sebelumnya. Suasana haru semakin terasa ketika kami melihat foto foto mbah Darto beberapa waktu lalu saat kami sekeluarga berkumpul di Tawangmangu.
Sedangkan saat Idul Adha 1430 H, aku tidak pulang kampung. aku sholat Ied di masjid Istiqlal sebagaimana tulisan sebelumnya. Awalnya memang terasa biasa biasa saja saat menyatakan untuk tidak mudik, tetapi pada hari H begitu terasa rasa rindu kepada keluarga di rumah saat melihat para jamaah sholat Ied yang berombongan sekeluarga.
5. Ikut meramaikan lalu lintas Jakarta
Setelah Idul Fitri 1430 H, kami mulai lagi setengah semester terakhir di semseter 9 DIV STAN. Dan kabar gembiranya adalah ruang kuliah dipindahkan sementara ke kantor BPPK di purnawarman karena kampus STAN di Bitaro sedang dilakukan renovasi total. Kampus di Purnawarman terletak di daerah Blok M dan berdekatan dengan markas POLRI yang pada saat itu sedang hangat kasus cicak vs buaya.
Dari Bintaro ke Purnawarman memang tidak terlalu jauh. Tapi yang namanya lalu lintas Jakarta yang padat dan pasti macet membuat perjalanan jadi lama. Pertama kali aku berangkat lebih dari sejam sebelu kuliah dimulai sebagai pemanasan dan pengenalan rute perjalanan. Namun beberapa minggu terkahir aku dah bisa mencapai purnawarman dalam waktu 40 - 50 menit saja. Aku sudah hafal jalur yang kurang begitu padat sehingga bisa menghemat waktu perjalanan.
Selama bolak balik ke Purnawarman aku berboncengan dengan teman yang tidak membawa sepeda motor di Jakarta. Karena ada tanggungan inilah, aku dilatih untuk bertanggung jawab terhadap temenku itu dan berusaha tepat waktu. Masalah ketepatan waktu yang tidak bisa kulakukan saat tempat perkuliahan di Bintaro yang jaraknya dekat dan pada hal hal lain, seolah diuji dengan pindahnya perkuliahan ke Purnawarman. Aku jadi mengerti arti ketepatan waktu (on time) yang dari dulu diajarkan Papiku. Inilah salah satu hikmah dalam perpindahan kampus STAN.
5. Menghadiri acara Teman dan Piknik
Selama tahun 2009 aku menghadiri banyak acara yang diadakan teman taman seperti pernikahan dan aqiqah anak mereka. Aku datang ke pernikahan Aris di Bandung, Burhan di Purwodadi, Mas agung di Tasik, Reza di Tangerang, Helmi di Jakbar, Doni di Wates, dsb. Kemudian aku menghadiri acara aqiqah anak mas Dimas dan anak Faiq.
KAPAN YA AKU NYUSUL MEREKA ???
Acara yang melibatkan kaluarga adalah pad akhir tahun ini aku pergi ke khitanan anak saudaraku di Cirebon.
Untuk perjalanan wisata di tahun 2009 ini seperti biasa aku piknik saat liburan kuliahbersama teman teman yang itu itu saja (bisa dilihat di FB).

Read More..

Piknik Ke Ragunan

Assalamu alaikum

Read More..

Tour De Batavia Lagi ... walau cuma sehari

Kamis, 24 Desember 2009

reserved

Read More..

Tour De Batavia .... Setahun Yang Lalu (part II)

Lanjutan dari cerita sebelumnya :
Hari Sabtu tanggal 27 Desember 2009. Kami sekeluarga piknik ke MONAS yang menjadi landmark kota Jakarta. Jangan ngaku pernah ke Jakarta kalo belum pernah ke Monas.


Read More..

Tour De Batavia .... Setahun Yang Lalu

Assalamu alaikum Wr Wb
Waktu berjalan begitu cepat, kalender sudah masuk halaman terakhir. Dan tak terasa, perjalanan Tour De Batavia bersama keluarga dah lewat setahun. Dari dulu ingin kubuat catatan perjalanan itu, tapi baru terealisasi sekarang, setahun kemudian.

Liburan akhir semester 7 kuliah DIV STAN ternyata cukuplama. satu setengah bulan lebih kayaknya. Klo kata orang orang mungkin inilah yang disebut makan gaji buta. Satu setengah bulan nganggur di kampung, tapi masih menerima penghasilan full. Alhamdulillah.
Liburan akhir tahun 2008 itu bertepatan dengan liburan sekolah adikku yang masih SMA. Ibuku yang ibu rumah tangga dan Papi yang sudah pensiun membuat suasana dalam rumah diliputi situasi kemalasan. Akhirnya aku iseng menawarkan ide untuk liburan bersama keluarga di Jakarta. Semua biaya aku yang tanggung (sombong banget ya).
Pergi ke Jakarta adalah impian ibuku yang seumur umur belum pernah ke ibukota Indonesia ini. Impian itu menjadi kenyataan saat papi dan ibu menghadiri acara wisuda kelulusanku dari Diploma III STAN tahun 2005. Namun yang kurasa, perjalanan saat itu kurang memberi kesan yang indah bagi ibuku. Meskipun menghadiri wisuda, tapi perasaan senang akan anaknya yang wisuda seolah tersapu oleh rasa capek dalam perjalanan, acara wisuda dan tempat istirahat. Ibuku memang sempat berfoto di monas tapi fotonya kecil dan kurang bagus. Sampai pada suatu saat aku pernah berjanji kepada ibuku bahwa Insya Allah kita akan pergi ke Jakarta lagi lengkap bersama adikku dengan perjalanan yang lebih enak dan lebih santai.
Keputusan telah bulat bahwa kami sekeluarga akan piknik ke Jakarta. Kucari tanggal yang tepat untuk pembelian tiket pulang dan pergi karena saat itu bertepatan hari libur akhir tahun. Setelah survey tarif tranportasi, aku membeli tiket berangkat dari Solo tanggal 23 Desember 2008 untuk papi , ibu dan Adikku Nurul naik kereta. Dan yang menjadi lebih istimewa, aku menemukan tiket pesawat murah untuk tanggal 29 Desember 2008 dari Jakarta Ke Solo sehingga aku putuskan untuk membeli 4 tiket pesawat untuk perjalanan pulang dari Jakarta ke Solo pada tanggal 29 Desember 2008.
Cerita ini dimulai saat aku berangkat lebih awal yaitu tanggal 22 Desember menuju Jakarta untuk mempersiapkan kamar kosku sebagai tempat istirahat seluruh keluarga. Kemudian pada hari Selasa tanggal 23 Desember , Papi, ibu dan adikku berangkat ke Jakarta dan besok paginya tanggal 24 Desember aku menjemput mereka di stasiun gambir.




Read More..

1 Muharram 1431 Hijriyah

Jumat, 18 Desember 2009

Assalamu alaikum Wr Wb
Di sela2 kesibukan penyusunan skripsi, kucoba menulis lagi. Hari ini adalah tahun baru Hijriyah. Walaupun baru lewat beberapa menit saja kalo patokannya jam 12 malam ini. Aku baru saja selesai menonton pemutaran perdana film Sang Pemimpi. Ini adalah nonton pemutaran perdana suatu film yang kesekian kalinya aku nonton jam paling akhir. Jadi nontonnya ya sambil ngantuk ngantuk dikit.

Aku tidak membahas film Sang Pemimpi di tulisan ini, tapi akan menggali kembali memori masa lalu tentang tahun baru Hijriyah atau biasa disebut Satu Suro kalo di Jawa. Memori yang samar samar masih terngiang di pikiranku.
Dulu waktu kecil, apalagi sebelum kelahiran adikku, aku selalu merengek rengek kepada Papi dan Ibu untuk pergi ke rumah mbah di Solo tiap ada hari libur termasuk libur tahun baru Hijriyah. Pergi ke rumah Mbah di Solo merupakan hal yang sangat menyenangkan karena saat itu di rumah Mbah dah punya televisi berwarna, ... ya ... televisi berwarna. Selain itu tiap kali nginep di rumah Mbah aku selalu diajak keliling kota Solo sama Om ku naik motor dan dibelikan mainan. (MANJA BANGET)
Khusus pada malam Satu Suro, aku pasti diajak menonton kirab pusaka dan Kebo Kyai Slamet dari Keraton Surakarta. Kata mbahku, kalo nonton kirab jangan pake baju merah, nanti kerbaunya marah dan mengamuk. Aku membayangkan hal itu seperti atraksi Matador di Spanyol. Hal lain adalah tentang kepercayaan masyarakat mengenai kotoran kerbau yang bisa menyuburkan tanaman dan membuat panen lebih melimpah. Air bekas mencuci pusaka bisa memberikan berkah, makanya masyarakat sampai berebutan kotoran kerbau dan air bekas mencuci pusaka tersebut. Itulah gambaran budaya di Solo saat malam Satu Suro.


Read More..

Aku Mau Tapi Malu

Sabtu, 05 Desember 2009

kau yang di sana siapa dirinya
buatku terpana
kesan pertama sungguh mempesona
ingin mengenalnya
di kepalaku ada suka yang menggila
sudikah kamu mengenalku mendekatiku aku

aku mau tapi malu
ku suka matamu, hidungmu, wajahmu
dan aku mau untuk jadi milikku
aku mau tapi malu
ku suka gayamu, tingkahmu, senyummu
tapi ku malu tuk katakan padanya
aku yang selalu punya sejuta cara
cara tuk merayu
tapi yang terjadi aku seperti ini
ku bingung sendiri
aku suka, aku mau, tapi sungguh aku malu
aku diam, aku bingung, aku harus bagaimana
oh Tuhanku, tolong aku, mengapa ku jadi mau
ku tak tahu kenapa ku tiba-tiba jadi malu
ku tak tahu, tak tahu, tak tahu
ku tak tahu, tak tahu


ini lagunye Gita Gutawa feat. Maia yang berjudul Mau Tapi Malu




Read More..