Pasti Ku Bisa

Minggu, 27 Februari 2011

Assalamu alaikum Wr Wb
Alhamdulillah

Siang2 mendung di Sukoharjo
Saya akan mencoba berpuisi yang menggambarkan kondisi saat ini. Puisi ini berjudul PASTI KU BISA

Selamat menikmati

Lihat apa yang terjadi
Dengan semua rencanaku
Hancur semua berantakan

Dia berjalan keluar dari lingkaran hidupku
Bebas kulepaskan dia
Akupun mulai berdendang

Pasti ku bisa melanjutkannya
Pasti ku bisa menerima dan melanjutkannya
Ooh pasti ku bisa menyembuhkannya
Cepat bangkit dan berfikir
Semua tak berakhir disini

Merasakan pandanganmu
Penuh cerita dan luka
Memang begitulah semua

Jangan pernah kau menunggu
Keajaiban dunia
Bukalah satu tujuan

Pasti kau bisa melanjutkannya
Pasti kau bisa menerima dan melanjutkannya
Ooh pasti kau bisa menyembuhkannya
Cepat bangkit dan berfikir
Semua tak berakhir disini

Pasti ku bisa melanjutkannya
Pasti ku bisa menerima dan melanjutkannya
Ooh pasti ku bisa menyembuhkannya
Cepat bangkit dan berfikir
Semua tak berakhir disini


NB : sebenarnya ini adalah Lirik Lagu PASTI KU BISA dari Band SHEILA ON 7
hehehe ......
Read More..

Ranah 3 Warna versi saya

Assalmualaikum Wr Wb
Alhamdulillah
Ranah 3 Warna, buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi yang dirilis di pasaran pada tanggal 23 Januari 2011 ini. Bermula dari membaca Negeri 5 Menara pada bulan Juli 2010 untuk mengisi kekosongan waktu menunggu penempatan setelah lulus DIV STAN, saya penasaran bagaimana kelanjutannya di buku kedua ini, “mantra” pesantren apa lagi yang akan digunakan untuk perjuangan hidup.

Alhamdulillah awal Pebruari 2011, saya membeli buku R3W di Pameran buku yang diadakan di kota Solo (diskon 15 %). Saya baru membacanya seminggu kemudian karena adik saya ingin membacanya terlebih dahulu. Setelah adik saya selesai, baru kemudian giliran saya membacanya saat mudik ke Sukoharjo tanggal 12 Pebruari 2011. Saya menghabiskan waktu 2 hari membaca seluruh novel ini.

Ada beberapa kisah yang mirip dengan pengalaman yang pernah saya alami, misalnya keterbatasan uang kos (hehe) dan nonton sepakbola bersama Papi saya. Sepertinya novel ini memang terinspirasi dari kisah nyata penulis. Satu lagi yang menarik dari novel ini adalah perjalanan Alif Fikri (tokoh dalam novel ini) melewati 3 daerah bahkan 3 negara seperti yang tergambar dalam cover novel R3W ini.

Saya pun mempunyai pengalaman Ranah 3 Warna versi saya sendiri. Pengalaman ini adalah perpindahan ke 3 kota di pulau Jawa selama bulan Ramadhan 1431 H atau bulan Agustus –September 2010 yang lalu. 3 Kota tersebut adalah Tangerang (dan Jakarta), Solo (padahal Sukoharjo) dan yang terakhir Surabaya.

Setelah lulus kuliah DIV STAN pada bulan Juni 2010 (Alhamdulillah), saya sempat jadi “pengangguran” pada bulan Juli 2010. Saya mengisi waktu dengan piknik ke nikahan teman di berbagai kota (Saya kapan ya .... !!!). Selain itu saya juga mulai memaksakan diri membaca buku tebat aka “novel” salah satunya Negeri 5 Menara.
Akhir Juli 2010 sebenarnya saya sudah berencana mau ke Jakarta untuk packing barang-barang yang ada di kos Ponsaf, tapi waktunya masih belum ditentukan. Dan akhirnya tanggal 3 Agustus 2010 ada jarkom untuk briefing penempatan di Kantor Pusat Jakarta pada tanggal 9 Agustus 2010. Dan petualangan Ranah 3 Warna pun dimulai (lebay dan maksa dikit).

Tanggal 7 Agustus 2010, berangkatlah saya ke Jakarta dengan Senja Utama Solo dan seperti biasa membawa bekal Nasi Ayam Goreng Mbah Karto. Saya sudah akrab dengan kereta ini karena sudah hampir 8 tahun bolak balik Solo-Jakarta. Turun di stasiun Pasar Senen pagi harinya dan langsung ganti bis Patas AC 44 jurusan Ciledug dan ganti angkot D22 jurusan Ciledug – Bintaro.

Hari briefing pun tiba (9 Agustus 2010). Karena motor sudah dikirim ke Solo, akhirnya saya dan teman2 naik taksi ke Kantor Pusat di Jl Gatot Subroto. Briefing di lantai 3 gedung utama dari jam 13:00 sampai jam 16:30 sore. Pulang dari Kantor Pusat dilanjutkan dengan nonton film di FX Senayan (saya lupa film apa). Ada teman2 yang langsung pulang kampung setelah briefing, tapi saya masih di Jakarta dulu sekaligus menyambut bulan Ramadhan di Jakarta yang kalau ga salah 1 Ramadhan 1431 H jatuh pada hari Rabu 11 Agustus 2010.

Bersambung .... !!

Read More..

Doa Orang Yang Menderita Kesedihan Mendalam

Assalamualaikum Wr Wb

Tengah malam, di rumah Sukoharjo.

Saya masih belum bisa memejamkan mata. Dan akhirnya dilampiaskan dengan browsing internet. Mencari-cari sesuatu yang bisa dipelajari. Membaca postingan lama di blog ini. Dan tentu saja menjelajah jejaring sosial (facebook dan twitter). Saya masih belum bisa menghadirkan tulisan orisinal untuk saat ini. Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan hasil bacaan saya dari ERAMUSLIM terkait dengan kejadian yang membuat saya bersedih hati. Semoga bermanfaat bagi saudara2 yang sedang bersedih.

Kehidupan di dunia merupakan permainan dan senda gurau. Ada kalanya menang ada kalanya kalah. Susah dan senang silih berganti. Senangnya merupakan kesenangan yang menipu, sedihnya merupakan kesengsaraan sementara. Itulah dinamika kehidupan di alam fana. Sungguh berbeda dengan kehidupan sejati dan abadi di akhirat kelak nanti. Barangsiapa senang, maka ia akan selamanya senang (Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan ini). Barangsiapa menderita, maka ia akan menderita selamanya (wa na’udzu billahi min dzalika).

Orang beriman yang benar-benar memahami hakikat kehidupan di dunia tidak akan pernah membiarkan dirinya tenggelam dalam kesenangan sehingga membuat lupa diri. Demikian pula saat mengalami kesedihan, maka ia tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam keputus-asaan.

Di antara ciri orang beriman ialah saat ia dirundung malang, maka ia segera kembali kepada Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Allah Subhaanahu wa ta’aala. Ia segera mengingatNya (dzikrullah) dan memanggil-Nya. Sebab ia tahu bahwa hanya dengan mengingat dan memanggil Allah sajalah hati akan memperoleh ketenteraman. Tidak ada tempat lain yang patut dijadikan muara pengaduan selain kepada Rabb, Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa kehidupan ini.

”Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’du ayat 28)

Setiap orang pasti pernah mengalami kondisi hidup yang mendatangkan kesedihan. Bahkan kadangkala bila ujian hidup terasa begitu berat ia menjadi penderitaan yang menimbulkan kesedihan sangat mendalam. Barangkali ada yang anaknya -buah hatinya- baru saja berpulang ke Rahmatullah. Atau barangkali seseorang baru saja bercerai dengan pasangan hidupnya. Atau barangkali baru dapat vonis dokter kalau dirinya mengidap penyakit berat. Atau barangkali anak pertamanya lahir dengan ketidak-sempurnaan fisik alias cacat permanen. Apapun keadaannya, yang jelas semua itu merupakan ujian Allah bagi orang beriman. Bila ia lulus menghadapinya, maka derajat imannya akan naik di sisi Allah.

Alhamdulillah kita punya Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam yang memberikan tuntunan bagaimana seharusnya kita selaku orang beriman berrespon terhadap keadaan sulit dalam hidup di dunia fana ini. Beliau mengajarkan sebuah do’a bagi siapapun yang menderita kesedihan mendalam.

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Doa orang yang sedang menderita (kesedihan yang mendalam) ialah:

“Ya Allah, RahmatMu aku harapkan, janganlah Engkau serahkan segala urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata, perbaikilah segala urusanku, tiada ilah yang berhak disembah selain Engkau.” (HR Abu Dawud)"


Dari do’a ini sekurangnya ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik:

Pertama, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengarahkan orang yang menderita kesedihan mendalam agar hanya dan hanya mengharapkan rahmat (kasih-sayang) Allah. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengajarkan ummatnya agar senantiasa kembali kepada Allah sebelum segala sesuatunya. Sebab betapapun keadaan sulit yang dihadapi seseorang, namun jika dirinya masih dirahmati Allah berarti ia masih dikategorikan sebagai orang yang beruntung. Alangkah ruginya seseorang yang berhasil meraih berbagai kesuksesan duniawi namun dirinya jauh dari rahmat (kasih-sayang) Allah. Alangkah tertipunya orang yang berhasil mendapat simpati bahkan pujian manusia banyak namun Allah tidak mencurahkan rahmat-Nya kepada dirinya.

Kedua, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengajarkan kita untuk selalu bertawakkal hanya kepada Allah semata dalam semua urusan dan situasi kehidupan. Jangan hendaknya seseorang menyerahkan urusan dan persoalan hidupnya kepada dirinya sendiri atau kepada manusia lain. Sebab tidak ada manusia yang menguasai taqdir hidup dirinya sendiri apalagi orang lain. Allah sajalah Yang Maha Kuasa untuk mengubah hidup kita dari suatu keadaan kepada keadaan lainnya. Allah sajalah Yang Maha Kuasa untuk mengubah taqdir seseorang. Oleh karenanya kita disuruh berdo’a kepada Allah. Jika do’a kita diperkenankan oleh Allah, maka sangat mungkin taqdir kita berubah. Mohonlah kepada Allah agar segala urusan kita diperbaiki-Nya.

Ketiga, kita disuruh mengulang kembali ikrar Tauhid Laa ilaaha illa Allah. Sebab dengan kita mengulang kembali komitmen fundamental ini, maka Allah akan memandang kita sebagai seorang mu’min yang memahami sepenuhnya ucapan dalam sholat kita yang berbunyi:

”Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS Al-Fatihah ayat 4)

Saudaraku, marilah kita menghibur diri di kala sedih dengan jalan terbaik, yaitu mengikuti sunnah Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Marilah kita biasakan membaca do’a yang Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ajarkan. Semoga dengan demikian Allah benar-benar akan mendatangkan ketenteraman bagi kita bersama. Selain itu, mudah-mudahan Allah akan memberi solusi terbaik saat kita menghadapi berbagai ujian kehidupan dunia yang fana ini.

SUMBER : ERAMUSLIM

Read More..

Jangan Tangisi Apa Yang Bukan Milikmu

Selasa, 22 Februari 2011

Assalamualaikum Wr Wb

Alhamdulillah

Kali ini saya ingin berbagi tulisan yang saya temukan di salah satu grup Facebook.

Semoga bermanfaat


Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. Pffhh…sungguh semua itu tlah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa.


Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majlis-majlis ilmu, majelis-majelis dzikir yang akan mengantarkan pada ketentraman jiwa.

Hidup ini ibarat belantara.Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain.

Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita.

Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita. Apa yang memeng menjadi jatah kita di dunia, entah itu Rizki, jabatan, kedudukan pasti akan Allah sampaikan.Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan kita bisa miliki, meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab(Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu)supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikaNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al-Hadid ;22-23)

Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh.Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita,bukanya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi benar-benar mendikte Allah: Pokoknya harus dia Ya Allah… harus dia, karena aku sangat mencintainya. Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan pakasa.Dan akhirnya kalaupun Allah memberikanya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkanya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkanya dengan marah karena niat kita yang terkotori.

Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan ini dari Allah :

“…. Boleh jadi kalian membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian.Allah Maha mengetahui kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 216)

Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu didunia ini harus benar-benar perlu bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang mukmin tidak hidup untuk dunia tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak!

Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu!

sumber : disini
Read More..