Assalamu alaikum Wr Wb
"Karena Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga"
itulah peribahasa yang sudah kita kenal yang menunjukkan bahwa satu kesalahan kecil menimbulkan dampak yang besar bagi orang lain. Sudah jadi hal umum di Indonesia, bahwa jika ada suatu kasus yang dilakukan seseorang, akan diturut sampai ke lingkungannya, keluarganya, dan sekolahnya. Kemudian mereka menarik kesimpulan bahwa lingkungan, keluarga dan sekolahnya memang "rusak" seperti perilaku orang tersebut.
Saat ada kasus bom bali dan bom di tempat lain di Indonesia, polisi berhasil menangkap dan mengeksekusi pelakunya. Beberapa pelaku merupakan lulusan pesantren yang cukup terkenal. Masyarakat mulai meng-generalisir bahwa pesantren merupakan tempat mendidik teroris, tempat latihan membuat bom, dll. Akhirnya masyarakat memandang bahwa pesantren sudah menyimpang dari tujuan aslinya.
Pelaku bom ada yang memiliki hubungan keluarga. Masyarakat pun menilai bahwa keluarga tersebut adalah keluarga teroris. Sampai yang paling parah adalah penolakan untuk memakamkan jenazah pelaku teroris di kampung mereka.
Jadi generalisasi yang terjadi adalah bahwa pelaku teroris lulusan pesantren sehingga pesantrennya harus ditutup.
Kasus gayus juga menimbulkan generalisasi terhadap tempat saya menuntut ilmu sekarang, yaitu kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Gayus yang dua kali kuliah di STAN (D3 Perpajakan dan D4 Akuntansi)telah menggiring opini masyarakat bahwa kampus STAN mendidik calon koruptor. Dosennya mengajari cara korupsi, dsb.
Beban moral juga dipikul oleh keluarga mahasiswa STAN dan alumni STAN. Anaknya pak XX kuliah untuk jadi calon koruptor. Anaknya Ibu YY sudah kerja di pajak selama sekian tahun dan sudah kenyang korupsinya. Termasuk teman sekelas SMA adik saya juga sering meledek dengan sebutan "adik koruptor" walaupun cuma gurauan biasa.
Saya cuma ingin mengatakan :
SAYA MAHASISWA STAN, DAN SAYA BUKAN (CALON) KORUPTOR!
SAYA PETUGAS PAJAK, DAN SAYA BUKAN KORUPTOR!
SAYA PEGAWAI KEMENKEU, DAN SAYA BUKAN KORUPTOR!
"Karena Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga"
itulah peribahasa yang sudah kita kenal yang menunjukkan bahwa satu kesalahan kecil menimbulkan dampak yang besar bagi orang lain. Sudah jadi hal umum di Indonesia, bahwa jika ada suatu kasus yang dilakukan seseorang, akan diturut sampai ke lingkungannya, keluarganya, dan sekolahnya. Kemudian mereka menarik kesimpulan bahwa lingkungan, keluarga dan sekolahnya memang "rusak" seperti perilaku orang tersebut.
Saat ada kasus bom bali dan bom di tempat lain di Indonesia, polisi berhasil menangkap dan mengeksekusi pelakunya. Beberapa pelaku merupakan lulusan pesantren yang cukup terkenal. Masyarakat mulai meng-generalisir bahwa pesantren merupakan tempat mendidik teroris, tempat latihan membuat bom, dll. Akhirnya masyarakat memandang bahwa pesantren sudah menyimpang dari tujuan aslinya.
Pelaku bom ada yang memiliki hubungan keluarga. Masyarakat pun menilai bahwa keluarga tersebut adalah keluarga teroris. Sampai yang paling parah adalah penolakan untuk memakamkan jenazah pelaku teroris di kampung mereka.
Jadi generalisasi yang terjadi adalah bahwa pelaku teroris lulusan pesantren sehingga pesantrennya harus ditutup.
Kasus gayus juga menimbulkan generalisasi terhadap tempat saya menuntut ilmu sekarang, yaitu kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Gayus yang dua kali kuliah di STAN (D3 Perpajakan dan D4 Akuntansi)telah menggiring opini masyarakat bahwa kampus STAN mendidik calon koruptor. Dosennya mengajari cara korupsi, dsb.
Beban moral juga dipikul oleh keluarga mahasiswa STAN dan alumni STAN. Anaknya pak XX kuliah untuk jadi calon koruptor. Anaknya Ibu YY sudah kerja di pajak selama sekian tahun dan sudah kenyang korupsinya. Termasuk teman sekelas SMA adik saya juga sering meledek dengan sebutan "adik koruptor" walaupun cuma gurauan biasa.
Saya cuma ingin mengatakan :
SAYA MAHASISWA STAN, DAN SAYA BUKAN (CALON) KORUPTOR!
SAYA PETUGAS PAJAK, DAN SAYA BUKAN KORUPTOR!
SAYA PEGAWAI KEMENKEU, DAN SAYA BUKAN KORUPTOR!



0 comments
Posting Komentar